PENGARUH BUDAYA TERHADAP PERILAKU
ORGANISASI
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat
Rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pengaruh Budaya
Organisasi Terhadap Kemampuan Manajerial”. Makalah ini juga di buat berdasarkan
tugas dari mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
Saya mengucapkan terima kasih kepada teman serta
sumber-sumber yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Saya
ucapkan terima kasih juga kepada Bapak dosen Ilmu Budaya Dasar, yaitu … karena
telah memberikan saya kesempatan untuk membuat makalah ini.
Karena keterbatasan waktu, tenaga dan kemampuan, saya
menyadari makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan
para pembaca dapat memaklumi setiap kekurangan dalam makalah ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi saya pribadi dan juga kita semua.
depok,
28 november 2012
I.PENDAHULUAN
Perilaku organisasi hakikatnya mendasarkan pada ilmu perilaku itu sendiri yang
dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam suatu
organisasi. Kerangka dasar bidang pengetahuan ini harus didukung paling sedikit
dua komponen, yakni individu-individu yang berperilaku dan organisasi formal
sebagai wadah dari perilaku itu. Ciri peradaban manusia yang bermasyarakat
senantiasa ditandai dengan keterlibatannya dalam suatu organisasi tertentu. Itu
berarti bahwa manusia tidak bisa melepaskan dirinya untuk tidak terlibat pada
kegiatan-kegiatan berorganisasi.
Pendekatan perilaku dalam organisasi mempertaruhkan bahwa manusia dalam
organisasi adalah suatu unsur yang kompleks, dan karena adanya suatu kebutuhan
pemahaman teori yang didukung oleh riset yang empiris sangat diperlukan sebelum
diterapkan dalam mengelola manusia itu sendiri secara efektif. Untuk memahami
aspek-aspek manusia sebagai suatu dimensi dalam organisasi maka diperlukan
pendekatan ilmu perilaku organisasi.
II.PEMBAHASAN
A.BUDAYA ORGANISASI
Masyarakat terdiri dari manusia dan budayanya. Para ahli antropologi sering
kali menggunakan istilah sociocultural. Mereka berpendapat bahwa budaya suatu
bangsa dipelajari, diyakini bersama, dan bahwa budaya tersebut mendefinisikan
batasan untuk berbagai kelompok yang berbeda dan berbagai aspek budaya
nasional, oleh karena itu, budaya nasional merupakan suatu gabungan total dari keyakinan,
ritual, peraturan, adat, artifak, dan institusi yang menentukan ciri populasi
tersebut.
Nilai, norma, adat, dan ritual budaya tidak muncul begitu saja, tetapi
berkembang melalui evolusi dan dipengaruhi oleh politik, agama, bahasa, dan
aspek budaya yang lain. Individu dan kelompok dalam masyarakat memainkan suatu
peran dalam perjalanan yang ditempuh oleh budaya selama beberapa waktu.
Budaya dan sub – budaya suatu bangsa mempengaruhi bagaimana transaksi
organisasi dilakukan. Pengetahuan, rasa hormat, rasa fleksibilitas dalam
mengikuti perbedaan budaya nasional telah menjadi faktor penting untuk
dipertimbangkan oleh manajer dalam rencana yang mereka buat. Belajar
bekerjasama dalam sebuah dunia yang dipengaruhi oleh perbedaan budaya nasional
menjadi persyaratan utama manajemen yang efektif. Manajemen perlu memahami
budaya nasional dan berbagai karakteristik budaya organisasi.
1. Pengertian Budaya Organisasi
Budaya organisasi memiliki makna yang luas, antara lain:
MenurutØ Luthans (
1998 ), budaya organisasi merupakan norma-norma dan nilai-nilai yang
mengarahkan perilaku anggota organisasi.
Sarplin (Ø 1995 )
mendefinisikan budaya organisasi merupakan suatu sistem nilai, kepercayaan dan
kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan struktur
sistem formalnya untuk menghasilkan norma-norma perilaku organisasi.
Schein ( 1992 ) mendefinisikanØ budaya organisasi sebagai suatu pola dari
asumsi-asumsi dasar yang ditemukan, diciptakan atau dikembangkan oleh suatu
kelompok tertentu, dengan maksud agar organisasi belajar mengatasi atau
menanggulangi masalah-masalahnya yang timbul akibat adaptasi eksternal dan
integrasi internal yang sudah berjalan dengan cukup baik, sehingga perlu
diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar untuk memahami,
memikirkan dan merasakan berkenaan dengan masalah-masalah tersebut.
MenurutØ Mondy dan
Noe ( 1996 ), budaya organisasi adalah sistem dari shared values, keyakinan dan
kebiasaan-kebiasaan dalam suatu organisasi yang saling berinteraksi dengan
struktur formalnya untuk menciptakan norma-norma perilaku.
Hodge, Anthony dan Gales ( 1996 )Ø mendefinisikan budaya organisasi sebagai
konstruksi dari dua tingkat karakteristik, yaitu karakteristik organisasi yang
kelihatan ( observable ) dan yang tidak kelihatan ( unobservable ).
Pada level observable, budaya organisasi mencakup beberapa aspek organisasi
seperti arsitektur, seragam pola perilaku, peraturan, legenda, mitos, bahasa,
dan seremoni yang dilakukan perusahaan. Sedangkan pada level unobservable,
budaya organisasi mencakup shared values, norma-norma, kepercayaan,
asumsi-asumsi para anggota organisasi untuk mengelola masalah dan
keadaan-keadaan disekitarnya.
Budaya organisasi jugaØ mengacu ke sistem makna bersama yang dianut oleh
anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain.
Sistem makna bersama ini, bila diamati dengan lebih seksama, merupakan
seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu. Riset paling
baru mengemukakan tujuh karakteristik primer berikut yang bersama-sama
menangkap hakikat dari budaya organisasi.
a.Inovasi dan pengambilan resiko
b.Perhatian terhadap detail
c.Orientasi hasil
d.Orientasi orang
e.Orientasi tim
f.Keagresifan
g.Kemantapan
Setiap karakteristik tersebut berada pada kontinum dari rendah ke tinggi. Maka
dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan
diperoleh gambaran gabungan atas budaya organisasi itu. Gambaran itu menjadi
dasar bagi perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai
organisasi itu, cara penyelesaian urusan di dalamnya, dan cara para anggota
diharapkan berperilaku.
2.Peran Budaya Organisasi
Dari pengertian budaya organisasi di atas, tampak bahwa budaya organisasi
memiliki peran yang sangat strategis untuk mendorong dan meningkatkan
efektifitas kinerja organisasi, khususnya kinerja manajemen dan kinerja
ekonomi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Peran budaya
organisasi adalah sebagai alat untuk menentukan arah organisasi, mengarahkan
apa yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan, bagaimana
mengalokasikan sumber daya dan mengelola sumber daya organisasional, dan juga
sebagai alat untuk menghadapi masalah dan peluang dari lingkungan internal dan
eksternal.
3.Tingkat Budaya
Schein membagi ke dalam tiga tingkatan budaya, yaitu:
a. Artifacts, yaitu struktur dan proses organisasional purba yang dapat diamati
tapi sulit ditafsirkan.
b. Espaused Values, yaitu tujuan, strategi dan filsafat
c. Basic Underlaying Assumptions, yaitu kepercayaan, persepsi, perasaan yang
menjadi sumber nilai dan tindakan.
Jika dihubungkan dengan nilai, tingkatan budaya dapat dibagi menurut kuantitas
dan kualitas sharing ( keberbagian ) suatu nilai dalam masyarakat:
• Semakin banyak anggota masyarakat ( aspek kuantitatif ) yang menganut,
memiliki dan menaati suatu nilai, maka semakin tinggi tingkat budayanya.
• Semakin mendasar penataan nilai ( aspek kualitatif ), semakin kuat budayanya
4.Fungsi Budaya
Budaya memiliki beberapa fungsi di dalam suatu organisasi, antara lain:
a. Budaya memiliki suatu peran batas-batas penentu, yaitu budaya menciptakan
perbedaan antara satu organisasi dengan organisasi yang lain.
b. Budaya berfungsi untuk menyampaikan
rasa identitas kepada anggota-anggota organisasi
c. Budaya mempermudah penerusan komitmen hingga mencapai batasan yang lebih
luas, melebihi batasan ketertarikan individu
d. Budaya mendorong stabilitas sistem sosial. Budaya merupakan suatu ikatan
sosial yang membantu mengikat kebersamaan organisasi dengan menyediakan standar-standar
yang sesuai mengenai apa yang harus dikatakan dan dilakukan karyawan.
e. Budaya bertugas sebagai pembentuk rasa dan mekanisme pengendalian yang
memberikan panduan dan bentuk perilaku serta sikap karyawan
B.PERILAKU
ORGANISASI
Memahami perilaku orang dalam organisasi kini dianggap penting karena perhatian
manajemen seperti produktivitas karyawan, kualitas kehidupan kerja, tekanan
pekerjaan, dan kemajuan karir terus menjadi berita utama,
Pandangan multidisiplin dari perilaku organisasi mengilustrasikan sejumlah poin
penting. Pertama, perilaku organisasi merupakan suatu cara berpikir. Perilaku
dipandang beroperasi pada tingkat individu, kelompok, dan organisasi.
Pendekatan ini menyarankan bahwa ketika kita mempelajari perilaku organisasi,
kita harus mengidentifikasikan dengan jelas tingkat analisis yang digunakan
(individu, kelompok, atau organisasi. Kedua, perilaku organisasi adalah
multidisiplin. Ini berarti bahwa ilmu ini menggunakan prinsip, model, teori,
dan metode dari berbagai disiplin yang lain. Ketiga, terdapat orientasi
humanistik yang tampak jelas dalam perilaku organisasi. Orang dan sikap,
persepsi, kapasitas pembelajaran, perasaan, dan tujuan mereka merupakan hal
yang penting bagi organisasi. Keempat, bidang perilaku organisasi berorientasi
pada kinerja. Kelima, karena bidang perilaku organisasi sangat bergantung pada
disiplin yang diakui, peran metode ilmiah dalam mempelajari variabel dan
hubungan dianggap penting. Karena metode ilmiah digunakan dalam penelitian
mengenai perilaku organisasi, serangkaian prinsip dan petunjuk mengenai apa
yang membentuk penelitian yang baik telah muncul. Keenam, bidang perilaku
organisasi memiliki orientasi penerapan yang jelas, bidang ini berkaitan dengan
pencarian akan jawaban yang berguna bagi pertanyaan yang muncul dalam konteks
pengelolaan organisasi.
1.Pengertian
Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi memiliki beberapa pengertian antara lain:
a. Perilaku organisasi adalah suatu studi yang menyangkut aspek-aspek tingkah
laku manusia dalam suatu organisasi atau suatu kelompok tertentu.
b. Menurut Larry L Cummings bahwa perilaku organisasi adalah suatu cara
berpikir, suatu cara untuk memahami persoalan-persoalan dan menjelaskan secara
nyata hasil-hasil penemuan berikut tindakan-tindakan pemecahan.
c. Menurut Joe Kelly bahwa perilaku organisasi dapat dirumuskan sebagai suatu
sistem studi dari sifat organisasi, seperti misalnya: bagaimana organisasi dimulai,
tumbuh dan berkembang, dan bagaimana pengaruhnya terhadap anggota-anggota
sebagai individu, kelompok-kelompok pemilih, organisasi-organisasi lainnya dan
institusi-institusi yang lebih besar
2. Tujuan Perilaku Organisasi
Tujuan dari perilaku organisasi adalah untuk membantu menjelaskan, meramalkan,
dan mengendalikan perilaku manusia.
a.Penjelasan
Ketika kita mencari jawaban dari mengapa seseorang atau sekelompok orang
melakukan sesuatu, kita sebenarnya sedang mencari penjelasan mengenai tujuannya.
Dari sudut pandang manajemen, tujuan ini dipandang kurang begitu penting
dibandingkan dengan dua sasaran lainnya, karena sasaran tersebut terjadi
setelah adanya fakta. Namun, jika kita ingin memahami sebuah fenomena, kita
harus memulai dengan mencoba menjelaskannya. Selanjutnya, kita dapat
menggunakan pemahaman ini untuk menentukan penyebabnya.
c.Pengendalian
Tujuan perilaku organisasi adalah menggunakan ilmu perilaku organisasi untuk
mengendalikan perilaku untuk meningkatkan efektivitas pekerjaan mereka.
III.PENUTUP
Kesimpulan
Budaya sangat berpengaruh sekali terhadap perilaku dalam sebuah organisasi.
Karena budaya organisasi melibatkan ekspektasi, nilai, dan sikap bersama yang
dapat memberikan pengaruh pada individu, kelompok, dan proses organisasi.
Budaya organisasi juga sebagai perspektif untuk memahami perilaku individu dan
kelompok dalam suatu organisasi.